BEBERAPA PANDANGAN TENTANG HAKIKAT PERKEMBANGAN HIDUP MANUSIA

BEBERAPA PANDANGAN TENTANG HAKIKAT PERKEMBANGAN HIDUP MANUSIA

Hakikat manusia sebagai ciptaan Allah SWT adalah makhluk yang mempunyai harkat dan martabat paling tinggi dan mulia di antara makhluk-makhluk Allah lainnya di muka bumi. Sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya, ia dianugerahi dengan berbagai kemampuan dasar yang disebut fitrah yang memiliki kecenderungan  pertumbuhan dan perkembangan tahap demi tahap kearah kesempurnaan jasmaniah dan rohaniah.

Manusia itu adalah “animal educable” artinya manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk yang dapat dididik. Menurut Langeveld manusia adalah “animal educandum” artinya manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk yang harus dididik, dan “home educandus” artinya manusia adalah makhluk yang bukan saja harus dan dapat dididik tetapi juga harus dan dapat mendidik.

Dalam proses kependidikan, manusia harus dipandang sebagai objek (sasaran) sekaligus sebagai subjek (pelaku) kependidikan. Dengan kata lain, manusia dididiksebagai makhluk yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan di bawah bimbingan pendidik menuju arah titik optimal pertumbuhan dan perkembanganya.

Di kalangan para pedagogic timbul suatu problem tentang apakah benar anak itu dapat didik. Dalam menjawab problem tersebut, maka timbul beberapa pandangan yaitu :

1. Aliran Empirisme

Empirisme berasal dari kata “empiria” yang artinya pengalaman. Tokohnya adalah John Locke (1632 – 1704), seorang psycholog dan paedagoog Inggris. Dengan teori “tabula rasa” (meja yang dilapisi lilin yang digunakan untuk menulis bahasa Yunani), ia menyatakan bahwa manusia dilahirkan dengan jiwa yang kosong dari kemampuan (potensi) dasar sehingga jiwanya disamakan sebagai meja lilin yang putih bersih dari pengaruh apapun. Jiwa manusia dapat dibentuk dan dilukis menurut kehendak pendidik.

Pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia ditentukan oleh factor dari luar dirinya yaitu pengalaman-pengalaman baik yang disengaja maupun tidak disengaja (pendidikan dan lingkungan). Lingkungan yang mempengaruhi perkembangan manusia terdiri atas lima aspek yaitu geografis, historis, sosiologis, kultural dan psikologis.

Aliran ini memandang pengaruh pendidikan yang menentukan hidup manusia, sedangkan pengaruh internal seperti kemampuan dasar, bakat dan keturunan tidak berdaya sama sekali.

Tokoh-tokoh pendukung aliran ini antara lain Watson, Pavlov, Heveltius, Emanuel Kant.

Kelebihan:

  1. Pendidikan lebih diutamakan (maha kuasa).
  2. Optimis bahwa dengan pendidikan akan menentukan kualitas hidup manusia, baik dan buruknya manusia (kertas putih yang dilukis sesuai dengan apa yang dilukis pelukisnya).

Kelemahan:

Tidak sesuai dengan kenyataan pendidikan. Teori ini terlalu ekstrim yang menonjolkan peranan pendidikan khususnya dan lingkungan pada umumnya (environmentalis).

Contoh: Anak orang kaya sering gagal dalam belajar di sekolah padahal fasilitas, petunjuk dan bimbingan sudah disediakan guru dan orang tuanya.

2. Aliran Nativisme

Nativisme berasal dari kata “nativus” artinya pembawaan. Tokohnya adalah Schopenhauer (1788 – 1880), seorang ahli fikir Jerman. Ia menyatakan bahwa setiap manusia dilahirkan dibekali bakat atau pembawaan baik yang berasal dari orang tuanya, nenek moyang atau jenisnya. Apabila pembawaannya baik maka akan baik pula anak itu dan sebaliknya.

Menurut aliran ini, segala pengaruh lingkungan (pendidikan) tidak akan berarti apa-apa, karena segala bakat dan pembawaan itu akan berkembang dengan sendirinya tanpa dapat diubah-ubah.

Tokoh-tokoh pendukung aliran ini antara lain: J.J. Rouseau, Plato, Lamboroso, Descrates, Basedow dan Lucian Arreat.

Kelebihan:

Sepintas lalu mengabaikan peranan pendidikan, sebenarnya sebagai aliran yang mendasarkan perkembangan pribadi atas potensi-potensi heriditas, maka pendidikan dipusatkan pada usaha merealisasikan potensi tersebut.

Kekurangan:

  1. Anti paedagogis
  2. Predestinatif yaitu perkembangan/nasib manusia seolah-olah sudah ditentukan sebelumnya yaitu pembawaan yang dimilikinya.
  3. Bersifat pesimis terhadap kekuasaan pendidikan (tidak punya kekuasaan sama sekali).

3. Aliran Konvergensi

Konvergensi artinya kerjasama atau bertemu pada satu titik. Aliran ini berasal dari ahli psikologi jerman William Stren (1871 – 1939). Perkembangan manusia adalah hasil perpaduan antara faktor bakat dan faktor alam sekitar. Antara factor bakat/pembawaan dengan factor lingkungan berproses secara dialogis yaitu saling mengembangkan kea rah tujuan yang optimal. Bagaimanapun baiknya potensi hereditas masih harus dilengkapi dengan lingkungan dan pendidikan yang baik untuk membina pribadi ideal.

Kepribadian = hasil kerjasama antara faktor potensi dengan lingkungan/pendidikan (K=fpxl).

Tokoh-tokoh pendukung aliran ini yaitu Woodworth, Marquis, Langevield dan Kihajar Dewantara.

Konvergensi = interaksionalisme (memadukan antara pengaruh factor dari dalam dengan dari luar secara timbale balik saling mempengaruhi perkembangan, lebih menintikberatkan pada proses belajar mengajar secara dialogis antara pendidik dengan anak didik, antara lingkungan dengan faktor pembawaan.

Menurut Islam:

Ketiga aliran di atas berorientasi pada pola piker “antroposentris” artinya perkembangan kepribadianmanusia hanya dipengaruhi oleh factor manusiawi. Manusia dalam pandangan Islam telah memiliki seperangkat potensi, disposisi, dan karakteristik unik. Potensi mencakup keimanan/tauhid, keislaman, keselamatan dan lain-lain. Semua potensi itu bukan dari orang tua melainkan diberikan oleh Allah. Proses pemberian potensi melalui struktur rohani (fitrah al-munazalah = yang diturunkan) kondisi kejiwaan manusia tidak netral apalagi kosong. Manusia tidak memiliki kebaikan/keburukan yang diwarisi, kebaikan dan keburukan tergantung pada realisasi dirinya. Perkembangan manusia bukan diprogram seperti robot, secara fitrah memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam mengaktualisasikan potensinya. Ia berhak memiliki dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Faktor hereditas boleh jadi menjadi salah satu faktor perkembangan seperti dalam pemilihan jodoh dalam kebaikan garis keturunan. Keturunan orang tua juga bukan faktor penentu kepribadian individu, baik buruknya individu tergantung lingkungan, potensi, keturunan dan takdir. Adapun takdir, manusia tidak mengetahuinya. Manusia tetap sisuruhberusah dengan akal dan kemampuan yang diberikan Allah untuk memperbaiki dan meningkatkan dirinya. Islam juga mengakui adanya peran lingkungan dalam penentuan perkembangan.

4. Aliran Naturalisme

Dipelopori oleh J.J. Rousseau (1712 – 1778), seorang filosof Prancis. Dia lebih menitik beratkan atas kemampuan dari pengaruh pembawaan yang secara alami telah terbentuk dalam pribadi anak didik. Manusia dilahirkan dengan kemampuan pembawaan yang cenderung baik, tidak ada pembawaan yang cenderung kea rah buruk/jahat. Pertumbuhan dan perkembangan akan mengalami kerusakn jika dicampuri oleh pengaruh faktor lingkungan atau pendidikan. Oleh karena itu, anak tidak perlu dididik oleh pendidik, anak dibiarkan dididik oleh kemampuan alamiahnya sendiri melalui proses kependidikan secara alami yang bebas dan merdeka.

Tiga prinsip pandangan tentang proses belajar mengajar:

–          Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri.

–          Guru/pendidik berada di luar proses belajar anak didik secara langsung, guru sebagai fasilitator, tanggung jawab belajar terletak pada dirinya sendiri.

–          Program pendidikan disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.

Aliran ini bersifat “paedosentris” (child-centered) : kemampuan individual anak didik menjadi pusat kegiatan proses belajar mengajar.

5. Aliran Idealisme

Dipelopori oleh Plato (427 – 347 SM). Paham ini menitikberatkan proses kependidikan pada nilai-nilai ideal manusia yang berpusat pada 3 potensi dasar manusia yaitu “trichotomi” : kemampuan berpikir terletak di kepala, kemampuan berkehendak terletak di dada, kemampuan bernafsu terletak di perut. Pikiran berada di dalam ide, kehendak dan nafsu keinginan terikat dalam kehidupan jasmaniah manusia.

Menurut Plato, panca indera manusia tidak dapat dipercaya dalam proses menangkap kebenaran hakiki karena sering menyesatkan, yang hakiki adalah idea (cita). Idea adalah segala sesuatu yang hanya dapat dicapai melalui pikiran manusia.

6. Pragmatisme

Manusia hendaknya tidak berfikir semata, tetapi berfikir untuk berbuat kemampuan jiwa dan pikiran manusia digunakan untuk memecahkan tugas hidupnya dalam skala besar. Manusia mempunyai daya kemampuan memecahkan problem kehidupan yang dihadapi, tidak menyerah pada kekuatan yang ada. Pendidikan merupakan alat pembudayaan yang ampuh. Dengan pendidikan manusia dapat menjadi penguasa, bukan menjadi budak masyarakat.

Perbandingan Naturalisme, Idealisme dan Pragmatisme:

Perbedaan pandangan terletak pada orientasi berfikir tentang tujuan hidup dan tujuan belajar manusia. Menurut Herman H Horne :

Naturalisme

Orientasi kepada:

Pragmatisme

Orientasi kepada:

Idealisme

Orientasi kepada:

– Alam semesta / nature sentries

– Jasad / jasmani

– Panca indera

– Bersifat actual

– Kekuatan lahiriah

– Bertahan hidup

– Organisme / makhluk hidup

– Manusia / antroposentris

– Jiwa

– Kreativitas & pertumbuhan

– Bersifat praktis

– Menggunkan kecerdasan otak / intelegensi

– Berprilaku social

– Individualitas / kedirian

– Roh / theosentris

– Kekuatan jiwa / soul

– Spiritualitas

– Bersifat ideal

– Kebenaran mutlak

– Berkorban

– Personalitas / kepribadian

Tentang wawan ahmad

Lahir di Tumih Kec.Wanaraya Batola sekarang tinggal di banjarbaru lagi belajar menambah ilmu
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s