KHUTBAH IDUL FITRI APA YANG KITA PEROLEH DARI SHAUM RAMADHAN ?

APA YANG KITA PEROLEH DARI
SHAUM RAMADHAN ?
الله اكبر 9
الحمد لله الذي توحد بجلال ملكوته وتفرج بجمال جبروته له الصفات المختصة بحقه والايات الدالة على انه غير مشبه بخلقه فسبحانه من اله اذهل العقول على الوصول الى كنه ذاته الابدية وادهش الخواطر عن الاحاطة بجليل صفاته السرمدية وهو المعروف بالربوبية والموصوف بالاهية من ذاق حلاوة انسه راى من لطفه العجائب وظفر منه بنيل المارب ومن امل سواه ابعده واشقاه احمده حمد عبدغرق في بحار نعمته واشكره شكر عبد اخلص في طاعته فهام في محبته واشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له المتعالي عن المشاركة والمشاكلة واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله الذي بعثه الله بالبينات اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد امام الانبياء وتاج الاصفياء المبعوث بالايات الباهرة وامعجزات الفاخرة اما بعد فيا معاشرالمسلمين رحمكم الله اوصيكم واياي بتقوى الله فقد فازالمتقون. معاشر المسلمين رحمكم الله.
Rasanya baru beberapa saat saja kita melaksanakan shalat Idul Fitri di tahun lalu. Masa itu telah berlalu satu tahun yang silam. Berlalunya masa satu tahun, berarti jatah umur kita berkurang satu tahun, dan tak mungkin kita kembali ke masa satu tahun lalu.Sejenak kita tengok hadis Rasulullah Saw
خير الناس من طال عمره وحسن عمله وشر الناس من طال عمره وساء عمله
Sebaik-baik manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, dan sejahat-jahat manusia ialah yang panjang umurnya, akan tetapi buruk amal perbuatannya.
Dalam hadis yang lain Rasullah Saw mewanti-wanti kepada setiap kita agar lebih berhati-hati menjalani hidup ini.
من اتت عليه اربعون سنة ولم يبلب خيره شره فايتهجز الى النار
Barangsiapa yang umurnya mencapai 40 tahun, akan tetapi amal baiknya masih belum dapat mengalahkan perbuatan jeleknya, hendaklah ia bersiap-siap untuk masuk neraka.
Berikut mari kita renungi sebuah cerita seorang filosof yang berjalan mengitari kota, memasuki desa dan lorong-lorong sempit, sambil membawa obor marak menyala ditangannya, padahal waktu siang bolong dan matahari bersinar terang – benderang. Seseorang bertanya kepadanya :” Wahai tuan Filosof, apa yang sedang tuan cari di siang hari begini, membawa obor marak menyala sedang matahari bersinar terang ? ”
Ia menjawab: ” Aku mencari manusia ”
Orang itu bertanya lagi ” Tuan Filosof orang-orang yang berkeliaran di setiap jengkal tanah dan ranah, di pasar dan dimana saja anda temui,apa bukan manusia ?”
Sang filosof menjawab pula :” mereka bukan manusia, mereka hanyalah hewan-hewan melata yang berbentuk manusia.”
” Alangkah kejamnya engkau wahai filosof, memandang mereka sebagai hewan,” kata orang itu pula.
Filosof berkata lagi :” Memang mereka adalah hewan-hewan yang hanya makan, tidur dan melakukan hubungan kelamin, seandainya mereka itu merasa dirinya manusia, ia berusaha agar dirinya membawa manfaat bagi orang lain. Namun kenyataan, mereka hidup hanya untuk perut yang menyebabkan kekayaan diatas perut bumi terkuras, membuat lahan tempat tinggal menjadi sumpek, membuat onar, hidup menjadi beban masyarakat, tidak pernah perduli terhadap berbagai kepentingan soial, hidup selalu dengan dendam kesumat, tidak pernah menghargai jerih payah orang lain, mengumpat dan menggunjing sesama dalam setiap kesempatan,menghalang-halangi orang lain berbuat kebaikan, mempelopori berbagai tindakan maksiat dan dosa.
Orang yang bertanya tadi terdiam, bungkam dan iapun bertanya di dalam hatinya : Apakah aku ini manusia ? Bersediakah kita juga bertanya ke dalam lubuk jiwa yang paling dalam,” Apakah aku ini manusia ?”
Barangkali kita akan menjawab :” Ya aku manusia, karena aku mempunyai akal pikiran, mempunyai tutur kata, budaya dan ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh hewan-hewan.”
Baiklah kalau itu jawabannya. Kita akan bertanya lagi.” Apakah tindak-tanduk, sepak terjang dan kelakuan kita manusiawi ?” Terhadap pertanyaan ini kita akan malu sendiri. Musthafa Luthfial Manfaluthi mengatakan : ” Tidak ada yang membedakan antara manusia dan hewan itu, kecuali kebaikan, yang dalam bahasa agamanya disebut dengan ihsan.”
Lebih lanjut al Manfaluthi mengatakan dalam kitabnya an-Nazharaat bahwa manusia terbagi kepada beberapa tipe :
Pertama, orang yang berbuat baik kepada dirinya sendiri, namun ia sama sekali tidak berbuat baik kepada orang lain. Mereka ini adalah orang yang serakah lagi rakus. Ia tumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri tanpa peduli kepada orang lain dan kepentingan mereka. Ia berusaha mengeruk kekayaan dari mana saja bisa didapatkan. Seandainya darah merah yang mengalir ditubuh manusia bisa berubah menjadi emas, niscaya semua manusia akan dibunuh untuk mendapatkan emas itu.
Kedua, orang yang berbuat baik untuk orang lain, tetapi perbuatan baiknya itu hanya sebagai jalan untuk mendapatkan kebaikan orang lain kepadanya. Ia mau berbuat baik kalau ada maslahat dan kepentingan yang lebih menguntungkan bagi dirinya. Mereka ini adalah manusia angkuh atau manusia tirani yang ganas. Kebaikan menurut mereka ialah penghambaan manusia untuk kepentingan dirinya.
Ketiga, orang yang tidak berbuat baik kepada dirinya sendiri dan juga tidak berbuat baik kepada orang lain. Mereka ini adalah manusia-manusia yang bakhil lagi bodoh. Ia tumpuk kekayaan, namun pada hakikatnya hanyalah membuat perutnya menjadi lapar agar peti besinya menjadi kenyang.
Keempat, orang yang berbuat baik kepada dirinya sendiri dan juga berbuat baik kepada orang lain. Orang itu tahu diri apa yang harus diperbuat, ia tahu kapan dan apa yang dapat dinikmati untuk dirinya sendiri, dan kapan ia berbuat baik kepada orang lain. Orang inilah kata Al manfulathi yang dikatan ihsan atau manusia. Orang seperti inilah yang menjadi idola dan dicari filosuf kesana kemari.
Tipe manakah kita kita ? jawabannya ada pada diri masing-masing. Barangkali tipe terbanyak manusia seperti yang disinyalir Al-Qur’an dalam surat Al-Araf : 107 : mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah; dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka memiliki telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti hewan ternak, malah lebih sesat lagi dan mereka itulah orang-orang yang lalai, yang akan menjadi penghuni neraka.
Jamaah solat idul fitri yang berbahagia Allahu Akbar 3x Walillahil hamdu
Hari ini kita mengucapkan takbir dan tahmid, sebagai manifestasi ketaatan dan pengakuan akan keagungan dan kebesaran Allah Swt.
Telah kita laksanakan ibadah puasa sebagai ibadah terpanjang yang kita laksanakan sebulan penuh, sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Kita tutup shaum ini dengan mengeluarkan zakat fitrah dan shalat idul fitri, memenuhi ketetapan Allah Swt. Mudah-mudahan latihan sebulan penuh membersihkan sifat angkara murka, tamak dan hasud, dan terbinalah kehalusan budi dan ketinggian akhlak.
Orang yang pandai menggunakan umur tidak menyia-nyiakan momentum ramadhan, kesempatan itu dipergunakan guna mendapat pengampunan dan penyucian diri dari semua kesalahan serta dosa yang pernah dibuat. Bagaimana meraih pengampunan ? Imam Nawawi dalam kitab Riadussalihin menerangkan, bahwa ada tiga syarat orang bertaubat :
1. Meninggalkan dosa dan kemaksiatan yang pernah diperbuatnya.
2. Menyesali dosa dan kemaksiatan yang pernah dikerjakan.
3. Menanamkan tekad dalam jiwa untuk tidak mengulangi dosa-kemaksiatan yang
pernah dibuat.
Jika kesalahan menyangkut hak manusia, maka tiga syarat terdahulu ditambah dengan syarat keempat, yaitu menyelesaikan segala permasalahan dengan pihak yang bersangkutan.
Sementara itu, kadang-kadang kemaksiatan terulang kembali, oleh karenanya Rabiah Al Adawiyah mengatakan : “Istagfaruna yahtaju ilas-tigfaar” (istigfar kita memerlukan lagi istigfar).
Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah ” Apakah ramadhan satu bulan menjadi lembaran yang indah yang melukiskan amal ibadah kita, ataukah ia berlalu begitu saja tanpa makna ? sepeninggal ramadhan ” apa yang dilakukan oleh umat Islam ?
Kalau pada bulan ramadhan kita telah dapat mengendalikan diri dan nafsu dengan ketat, tetapi diluar ramadhan ini mengapa menjadi renggang dan mungkin lepas sama sekali.
Pada bulan ramadhan, kita telah mempererat hubungan dengan Allah Swt seerat-eratnya dan menjalin rangkaian ibadah yang begitu sempurna dan indah, tetapi diluar ramadhan hubungan itu nampaknya goyah dan ibadahpun serba mentah …, kenapa ?
Pada waktu idul fitri umat Islam menggebu-gebu meneriakkan kalimat ” Allahu Akbar “, tetapi sesudah hari raya perilaku dan sikap sebagian diantara kita jauh dari jiwa takbir Allahu Akbar”. Banyak diantara kita, bila suara adzan telah dikumandangkan, nnamun kita tidak peduli; kita sibuk dengan rutinitas kerja, kita cari dan kita tumpuk nikmat, tapi kita lupa pada yang memberi nikmat.
Masjid yang telah kita bangun dengan dana dan biaya yang tidak sedikit akan tetap saja kosong melompong jika hati kita tetap saja tidak tergerak untuk memakmurkannya, sajian televisi yang menampilkan tontonan yang menyita perhatian umat islam turut serta mewarnai generasi-generasi islam, sehingga mereka lupa terhadap kewajibannya sebagai hamba Allah. Umat Islam takut mengeluarkan biaya pendidikan bagi anak-anaknya, sehingga anak-anak mereka lebih baik tidak mengerti apa-apa tentang agama ketimbang uang belanja berkurang, padahal pendidikan agama anak sejak dini mutlak diperlukan, tetapi itulah kondisi umat Islam dikampung kita, kalau hanya untuk keperluan hura-hura selalu saja ada cara dan jalan memperoleh biaya, tetapi jika untuk keperluan agama tidak pernah menemukan jalan.
Allahu Akbar 3x walillahilhamdu.
Dipagi hari ini marilah sejenak kita menundukan kepala memohon magfirah dan karunia Allah dengan sepenuh hati.
Ya Allah, Engkau telah limpahkan nikmat karunia-Mu, inayah dan petunjuk-Mu menembus seluruh ruang, mengalir sepanjang waktu ciptaan-Mu, kami hadapkan diri kami untuk memuji syukur kepada-Mu serta memohon ampunan-Mu. Telah banyak dosa yang kami lakukan, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, baik yang tersembunyi ataupun yang terang-terangan. Bagi-Mu Ya Allah tiada yang tertutup. Sekiranya engkau tidak mengampuni dosa kami dan tidak melimpahkan rahmat kepada kami, sungguh kami termasuk orang yang rugi, dan kami tidak akan sanggup menerima dahsyatnya api neraka.
Ya Allah, ampunilah segala dosa kami dan dosa Ibu Bapak kami. Limpahkanlah rahmat bagi kedua orang tua kami, ya Allah mereka telah berusaha mendidik kami sejak kecil, tapi kami tidak mampu membalas budi baik mereka.
Kami serahkan segenap jiwa raga kami ya Allah untuk memperoleh perlindungan dan rahmat karunia-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin.
اللهم حسن اخلاقنا وصحح اجسادنا ونور قلوبنا واحسن اعمالنا والى الخير قربنا وعن الشر ابعدنا واقض حوائجنا فى الدين والدنيا والاخرة سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

Tentang wawan ahmad

Lahir di Tumih Kec.Wanaraya Batola sekarang tinggal di banjarbaru lagi belajar menambah ilmu
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s