Muhkam dan Mutasyabih

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatka ke hadirat Allah swt . yang telah melimpahkan Rahmat,Taufiq, dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah mata kuliah Ulumul Quran yang berjudul Muhkam dan Mutasyabih sebagai salah satu kajian bidang studi Fakultas Tarbiyah.
Shalawat dan salam tak lupa penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw . Yang telah berjasa mengantarkan umatnya ke pintu gerbang rahmat kehidupan yang lebih mulia dan beradab.
Kami tak lupa ucapkan terima kasih kepada bapak A.Zakki Mubarak M.Ag selaku dosen pembimbing. Dalam pembuatan makalah ini penulis sangat menyadari bahwa banyak sekali terdapat kesalahan baik itu dari segi kata , tulisan atau pun penyajian masalahnya karena terbatasnya ilmu yang kami miliki. Untuk itu segala macam kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.
Akhirnya dengan ridho Illahi semoga makalah ini ada manfaatnya dan berguna bagi penulis danpembacanya.

Banjarbaru, 1 Oktober 2009

Tim Penulis

DAFTAR ISI
Kata pengantar………………………………………………………………..i
Daftar isi………………………………………………………………………ii
Pedahuluan……………………………………………………………………1
A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih………………………………….2
B. Sebab-sebab Terjadinya Tasyabuh Dalam Al-Qu’an……………………5
C. Pendapat Ulama Salaf dan Khalaf Tentang Penafsiran
Ayat-Ayat Mutasyabihat………………………………………………………………8
. D. Hikmah Keberadaan Ayat-Ayat Mutasyabihat Dalam Al-Qur’an… 9
Kesimpulan……………………………………………………………………………………….11
Pendahuluan

Dalam Al-Quran ada terdapat ayat-ayat yang di sebut dalam istilah Muhkam dan mutasyabih. Orang bisa saja mengatakan ,bahwa semua ayat Al-Quran adalah Muhkamat apabila yang dimaksudnya adalah keindahan.Karena semua ayat Al- Quran itu indah dan tersusun dengan rapi.Dan orang pun bisa saja mengatakan bahwa semua ayat Al Quran mutasyabihat, jika yang dimaksudkannya adalah kesamaan tingkatan i’jaz (mukjizat yang tak tertandingi) dalam kefasihan bahasa.Sehingga karena kesamaan tingkatannya itu, Menurut Dr.Shubhiy, sulit untuk ditangkap kelebihan antar satu bagian dan bagian lainnya.
Muhkam atau muhkamat adalah ayat yang bisa dilihat pesannya dengan gamlang atau dengan melalui ta’wil ,karena ayat yang perlu dita’wil itu mengandung pengertian lebih dari satu kemungkinan . Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat yang pengertian pastinya hanya diketahui oleh Allah.

A. PENGERTIAN MUHKAM DAN MUTASYABIH

Kata muhkam berasal dari kata ihkam yang secara bahasa berarti kekukuhan ,kesempurnaan, keseksamaan,dan pencegahan .Namun ,semua pengertian ini pada dasarnya kembali kepada makna pencegahan .Ahkam al-amr berarti ia menyempurnakan suatu hal dan mencegahnya dari kerusakan ;Ahkam al-faras berarti ‘ia membuat kekang pada mulut kuda untuk mencegahnya dari goncangan.Kata mutasyabih berasal dari kata tasyabu yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal.Tasyabaha dan isytabaha berarti dua hal yang masing –masing menyerupai yang lainnya

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menggunakan kedua kata ini atau kata jadiannya
Pertama,Firman Allah
كتب ا حكمت ا يته …
” Sebuah kitab yang disempurnakan (dijelaskan) ayat- ayatnya …”(QS,Hud (1)
Kedua,Firman Allah :
“.. .(yaitu ) Al-Qur’an yang serupa (mutasyabih ) lagi berulang-ulang…(QS,Al-Zumara(39):23)
Ketiga,Firman Allah :
‘ Dialah yang menurunkan Al-Kitab ( Al-Quran )kepada kamu Diantara (isi)-nya ada ayat –ayat yang muhkamat,itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (aayat –ayat )mutasyabihat.Adapun orang –orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,maka mereka mengikuti ayat- ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada orang yang mengetahui takwilnya melainkan Allah..Dan orang- orang yang mendalam ilmunya berkata :”Kami beriman kepada ayat- ayat yang mutasyabihat ,semuanya itu datang dari sisi Tuhan kami “Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melaikan orang –orang yang berakal.(QS.Ali Imran (3):

Ketiga ayat ini bisa menimbulkan pemahaman yang bertentangan. Karena itu Ibn Habib al- Naisaburi menceritakan adanya tiga pendapat tentang masalah ini .Pertama berpendapat bahwa Al-Quran seluruhnya muhkam berdasarkan ayat pertama. Kedua berpendapat bahwa Al-Quran seluruhnya Mutasybih berdasarkan ayat kedua. Ketiga berpendapat bahwa sebagian ayat Al-Quran muhkam dan lainnya mutasyabih berdasarkan ayat yang ketiga dan inilah pendapat yang lebih shahih .Sedangkan ayat yang pertama ,dimaksudkan dengan muhkamnya Al-Quran adalah kesempurnaannya dan tidak adanya pertentangan antar ayat -ayat nya.
Maksud mutasyabih dalam ayat kedua adalah menjelaskan segi kesamaan ayat-ayat Al-Quran dalam kebenaran ,kebaikan ,dan kemu’jizatannya.Secara istilah ,para ulama berbeda pendapat pula dalam merumuskan definisi muhkam dan mutasyabih .Al-Suyuthi misalnya telah mengemukakan 18 defenisi atau makna muhkam dan mutasyabih yang diberikan para ulama . Al-Zarqani mengemukakan 11 definisi pula yang sebagiannya dikutip dari Al-Suyathi.Diantara definisi yang dikemukakan Al- Zarqani adalah berikut ini.
1. Muhkam ialah ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh.Mutasyabih ialah ayat yang tersembunyi (maknanya) tidak diketahui maknanya baik secara akli maupun naqli.,dan inilah ayat-ayat yang hanya Allah mengetahuinya, seperti datangnya hari kiamat ,huruf-huruf yang terputus-putus di awal-awal surat .Pendapat ini dibangsakan Al-Alusi kepada pemimpin–pemimpin mazhab Hanafi.
2. Muhkam ialah ayat yang diketahui maksudnya,baik secara nyata maupun melalui takwil. Mutasyabih ialah ayat yang hanya Allah mengetahui maksudnya, seperti datangnya hari kiamat ,keluarnya dajjal,huruf-huruf yang terputus –putus di awal-awal surat.Pendapat ini dibangsakan kepada ahli Sunnah sebagai pendapat yang terpilih dikalangan mereka.
3. Muhkam ialah ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan makna takwil.Mutasyabih ialah ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna takwil .Pendapat ini dibangsakan kepada Ibn Abbas dan kebanyakan ahli ushul fiqih mengikutinya.
4. Muhkam ialah ayat yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan.Mutasyabih ialah ayat yang tidak berdiri sendiri, tetapi memerlukan keterangan. Kadang-kadang diterangkan dengan ayat atau denag keterangan tertentu dan kali yang lain diterangkkan dengan ayat atau keterangan yang lain pula karena terjadinya perbedaan dalam menakwilnya. Pendapat ini diceritakan dari Imam Ahmad r.a.
4
5. Muhkam ialah ayat yang seksam susunan dan urutannya yang membawa kepada kebangkitan makna yang tepat tanpa pertentengan. Mutasyabih ialah ayat yang makna seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya indikasi atau melalui konteksnya. Lafal musyatarak masuk ke dalam mutasyabih menurut pengertian ini.Pendapat ini dibangsakan kepada Imam al-Haramain.
6 Muhkam ialah ayat yang jelas maknanya dan tidak masuk kepadanya isykal (kepelikan).Mutasyabih ialah lawannya. Muhkam terdiri atas lafal nash dan lafal zahir. Mutasyabih terdiri atas ism-ism (kata-kata benda) Musytarak dan lafal-lafal mubhamah (samar –samar ). Ini adalah pendapat Al-Thibi.
7 Muhkam ialah ayat yang tunjukkan maknanya kuat ,yaitu lafal nash dan lafal Zahir. Mutasyabih ialah ayat yang tunjukkan maknanya tidak kuat ,yaitu lafal mujmal,muawal dan musykil. Pendapat ini dibangsakan kepada Imam al-Razi dan banyak peneliti yang memilihnya.
Sesudah mengemukakan berbagai definisi ini, Al-Zarqani berkomentar bahwa definisi – definisi ini tidak bertentangan. Bahkan diantaranya terdapat persamaan dan kedekatan makna.Namun,menurut dia,pendapat Imam al-Razi lebih jelas karena masalah ihkam dan tasyabuh sebenarnya kembali kepada persoalan jelas atau tidak nya makna yang dimaksud Allah dari kalam yang diturunkan –Nya.Dari sudut ini, defenisi yang dikemukakan Imam al-Razi merupakan definisi yang jami'( mencakup person-personnya) dan mani’ (menolak segala yang diluar person-personnya). Dengan definisi ini,tidak akan masuk kepada muhkam ayat atau lafal yang maknanya tersembunyi, dan tidak masuk kepada mutasyabih ayat atau lafal yang maknanya jelas.

B. SEBAB-SEBAB TERJADINYA TASYABUH DALAM AL-QURAN
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sebab tasyabuh atau mutasyabih adalah ketersembunyian maksud bahwa ketersemsunyian itu bisa kembali kepada lafal atau kepada makna atau kepada lafal dan makna sekaligus.
Contoh ketersembunyian pada lafal adalah

Di sini mutasyabih karena ganjilnya dan jarangnya digunakan.Kata
diartikan rumput-rumput berdasarkan pemahaman dari ayat berikutnya :
Mutasyabih yang timbul dari ketersembunyian pada makna adalah ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat-sifat Tuhan seperti:
Dan sebagainya.Muasyabih yang timbul dari ketersembunyian pada makna dan lafal sekaligus adalah seperti :
Artinya;
“..Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya.Akan tetapi kebaktian itu adalah kebaktian orang yang bertakwa.Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”
Ayat ini tidak dapat dipahami oleh orang yang tidak mengetahui adat bangsa Arab di zaman Jahiliyah.Diriwayatkan bahwa kebeberapa orang Ansar jika berihram (untuk haji atau umrah)tak seorang pun mereka mau memasuki pagar atau rumah dari pintunya.Jika ia seorang penduduk kota ,ia menggali lubang di belakang rumah-rumahnya dan ia keluar masuk dari sana Jika ia orang Badwi ia keluar dari dari belakang gubuknya.Sehubungan dengan itu,ayat ini diturunkan

Kemudian ,menurut Al-Zarqani ayat-ayat mutasyabihat dapat dibagi kepada tiga macam.
1 Ayat –ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya,seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya ,pengetahuan tentang waktu kiamat dan hal-hal gaib lainnya.Allah berfirman :
Artinya:
“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib ,tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri…
2 Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan
pengkajian,seperti ayat-ayat mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas,panjang,urutan,dan seumpamanya,Allah berfirman :
Artinya :
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap(hak-hak) perempuan yang yatim,maka kawinilah wanita-wanita(lain)… (Q.S An-Niza:3)
Maksud ayat ini tidak jelas dan ketidak jelasannya timbul karena lafalnya yang ringkas .Kalimat asalnya berbunyi :
Artinya:
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim sekiranya kamu kawini mereka,maka kawinilah wanita-wanita selain mereka”
3 Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua ulama.Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati orang-orang yang jernih jiwanya dan mujtahid.
Dalam pengertian yang sama,Al Raghib Al-Ashfahani memberikan penjelasan yang mirip.Menurut dia,mutasyabih terbagi kepada tiga jenis,yaitu jenis yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya,seperti waktu kiamat ,keluarnya dabbah (binatang),dan sebagainya; jenis yang dapat diketahui oleh manusia ,seperti lafal-lafal yang ganjil (garib) dan hukum yang tertutup ,dan jenis yang hanya di ketahui oleh ulama tertentu yang sudah mendapat ilmu

C. PENDAPAT ULAMA SALAF DAN KHALAF TENTANG PENAFSIRAN
AYAT –AYAT MUTASYABIHAT
Telah dikemukakan bahwa ayat-ayat mutasyabiyat itu berbagai macam sebab dan bentuknya.Dalam bagian ini ,pembahasan khusus tentang ayat-ayat mutayabihat yang menyangkut sifat-sifat Tuhan ,yang dalam istilah Al-Suyuthi “ayat al- shifat”
dan dalam istilah Shubi al-Shalih “mutasyabih al-shifat ” Ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini banyak.Di antaranya adalah:
1
“Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah , Yang bersemayam di atas ‘Arsy ” (QS,Thaha (20):5)
2
“Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris –baris”(QS,Al-Fajr:22)
3
“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi diatas semua hamba-Nya”
(QS.Al-An’am(6):61)
4
“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku di sisi Allah “(QS.AL-Zumara 939:56)
5
“Dan kekallah wajah Tuhanmu”(QS,Al-Rahman (55):27)

6
“Tangan Allah di atas Tangan mereka” (QS.Al-Fath(48):10)

Dalam ayat-ayat ini terdapat kata-kata “bersemayam”,”datang “, “diatas”, “sisi”, “wajah”,dan “tangan”yang dibangsakan atau dijadikan sifat bagi Allah. Kata-kata ini menunjukkan keadaan ,tempat , dan anggota yang layak bagi makhluk yang baharu.Karena dalam ayat-ayat tersebut kata-kata ini dibangsakan kepada Allah yang qadim (absolut).Karena itu pula ,ayat- ayat tersebut dinamakan “mutasyabih al-shifat”

D HIKMAH KEBERADAAN AYAT-AYAT MUTASYABIHAT DALAM Al-QUR’AN
Para Ulama telah banyak mengkaji hikmah dan rahasia keberadaan ayat-ayat baik Muhkam maupun mutasyabihat dalam Al-Qur’an empat di antaranya disebutkan oleh Al-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan.
1 Ayat-ayat mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya.
2 Sekiranya Al-Qur’an seluruhnya muhkam tentunya hanya ada satu mazhab.
Sebab ,kejelasannya akan membatalkan semua mazhab di luarnya. Sedangkan yang demikian tidak dapat diterima semua mazhab dan tidak memanfaatkannya.Akan tetapi jika Al-Qur’an mengandung muhkam dan mutasyabih maka masing-masing dari penganut mazhab akan mendapatkan dalil yang menguatkan pendapatnya.Selanjutnya ,semua penganut mazhab akan memperhatikan dan merenungkannya .Sekiranya mereka terus menggalinya maka ayat-ayat Muhkamat menjadi penafsirnya.
2 Jika Al-Qur’an Mengandung ayat-ayat mutasyabihat ,maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tajrih antar satu dengan lainnya.Hal ini memerlukan berbagai ilmu ,seperti ilmu bahasa ,gramatika, ma’ani, ilmu bayan,ushul fiqih dan sebagainya. Sekiranya hal itu tidak demikian sudah barang tentu ilmu –ilmu tersebut tidak muncul.
3 Al-Qur’an berisi da’wah terhadap orang- orang tertentu dan umum.Orang-orang awam biasanya tidak menyukai hal –hal yang bersifat abstrak.Jika mereka mendengar pertama kalinya tentang sesuatu wujud tetapi tidak berwujud fisik dan berbentuk,mereka menyangka bahwa hal itu tidak benar ada dan akhirnya mereka terjerumus ke dalam ta’thil (peniadaan sifat-sifat Allah). Karena itu, sebaiknyalah kepada mereka disampaikan lafal-lafal yang menunjukkan pengertian- pengertian yang sesuai dengan imajinasi dan khayal mereka.Ketika itu bercampur antara kebenaran empirik dan hakikat. Bagian pertama adalah ayat-ayat mutasyabihat yang dengannya mereka diajak bicara pada tahap permulaan. Pada akhirnya, bagian kedua berupa ayat-ayat muhkamat menyingkapkan hakikat sebenarnya.

Al-Zarqani menyebutkan sepuluh hikmah keberadaan ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an. Empat diantaranya telah disebutkan oleh Al-Suyuthi di atas.enam hikmah lainnya berikut ini disebutkan secara ringkas.
1 Ayat-ayat mutasyabihat merupakan rahmat bagi manusia yang lemah yang tidak mampu mengetahui segala sesuatu.
2 Keberadaan ayat-ayat ini juga merupakan cobaan dan ujian bagi manusia ,apakah mereka percaya atau tidak tentang hal gaib berdasarkan berita yang disampaikan oleh orang yang benar.
3 Ayat–ayat ini menjadi dalil atas kelemahan dan kebodohan manusia. Bagaimana pun besar kesiapan dan banyak ilmunya ,namun Tuhan sendirilah yang mengetahui segala galanya.
4 Ayat- ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an menguatkan kemu’jizatan nya.
Sebab didalamnya terkandung pengertian yang tersembunyi yang membawa kepada tasyabuh
5 Keberadaan mutasyabihat mempermudah orang menghafal dan memelihara Al-Qur’an .Sebab ,setiap kalimat yang mengandung banyak penafsiran yang berakibat kepada ketidak jelasan akan menunjuk banyak makna yang lebih dari pengertian yang dipahami dari kalimat asal.
6 Terkandungnya ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat dalam Al-Qur’an memaksa orang yang menelitinya untuk menggunakan argumen-argumen akal.

Kesimpulan
Dari uraian –uraian di atas dapat diketahui dua hal penting. Pertama ,dalam membicarakan muhkam tidak ada kesulitan.Muhkam adalah ayat yang jelas atau atau rajih maknanya Ayat –ayat Al-Qur’an baik yang muhkam maupun yang mutasyabih semuanya datang dari Allah.Jika muhkam maknanya jelas dan mudah dipahami sementara yang mutasyabih maknanya samar dan tidak semua orang dapat menangkapnya.Ayat-ayat mutasyabihat mengandung banyak kemungkinan makna.karena itu ,ayat –ayat seperti ini tidak boleh dipahami secara berdiri sendiri.Untuk memahaminya secara benar harus melalui petunjuk ayat –ayat muhkamat.

Daftar Pustaka

Drs.H.Ahmad Syadali – Drs.H.Ahmad Rofi’i.Ulumul Qur’an I ,Bandung,1997
As-Syuti,Al-Imam Jalaluddin,Al-Itqan fi Ulumi Quran,Dar Al-fikr

Tentang wawan ahmad

Lahir di Tumih Kec.Wanaraya Batola sekarang tinggal di banjarbaru lagi belajar menambah ilmu
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s