Pendidikan Terpadu Bersifat Qurani Dalam Era Teknologi Informasi Oleh : Dr.H. Karyono Ibnu Ahmad

A. Pendidikan Islam berdasarkan fitrah
Manusia adalah mahluk (ciptaan Allah) yang paling sempurna dan paling mulya (QS. 94:4), padahal sebelumnya dicipta dari bahan yang sangat hina, ternyata dengan kasih sayang Allah dibimbing dan didekatkan kepada-Nya selaku mahluk termulya di antara mahluk ciptaanya (QS.17:70). Tugas manusia di dunia adalah sebagai wakil Allah (khalifah) untuk mengelola dunia, agar manusia sejahtera di dunia dan di akhirat. (QS.2:30,201). Untuk memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat tersebut manusia dilengkapi dengan agama sebagai “buku petunjuk”, berupa wahyu Ilahi berupa Al Quran dan penjelasan dari “utusan Allah” berupa Hadits. Untuk menangkap petunjuk Ilahi tersebut manusia diciptakan dengan seperangkat “potensi suci” (fitrah Allah).
Potensi suci merupakan bakat yang dipunyai anak manusia yang harus dipelihara dibina, dibimbing, dididik agar berkembang dengan optimal, sempurna yang kemudian menjadi modal utama dalam menghadapi era teknologi. Sudah menjadi keharusan bagi pendidik atau yang berkecimpung dalam dunia pendidikan berkewajiban menumbuh kembangkan bakat-potensi anak-anak kita sesuai dengan keinginan Sang Pencipta seperti yang tercantum dalam kitab suci Al Quran. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah para pendidik kita sudah mengetahui dengan tepat dan pasti tentang sesuatu yang hendak dipelihara dan diarahkan pada anak didik?
Tujuan pendidikan sebenarnya bagaimana membawa anak didik mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan hidup tidak bisa dicapai hanya melalui pengembangan intelektual saja, sementara jiwanya gersang, ahlaknya tidak terbina, muncul rasa cemas, tidak puas, kadang-kadang menatap masa depan tidak jelas/gelap. Mengahadapi era kemajuan teknologi informasi, bagaimana pendidikan dapat memelihara, membimbing, membina dan menjaga bakat-potensi yang ada pada anak didik secara optimal.
Bakat/ potensi anak didik ini merupakan firah suci yang dipersiapkan Allah untuk dijaga, dibina, didik, dikembangkan agar menjadi manusia sempurna, utuh dan seimbang. Pendidikan harus mengembangkan intelektual spiritual. Sebab pengembangan intelektual saja tanpa spiritual, hidup menjadi gersang. Spiritual tanpa intelektual kehidupan menjadi layu. Contoh-contoh hasil pendidikan yang timpang ini sudah banyak kita saksikan. Hancurnya moral bangsa karena tidak seimbangnya pendidikan intelektual-spiritual ini. Telah terbukti majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, dan banyaknya para intelektual yang tidak manusiawi, tidak humanis, “makin mendekati tabiat hewan”. Mengapa hal ini terjadi? Jawabnya ialah karena kemajuan IPTEK tidak dibarengi dengan kemajuan spritual.
Pedoman yang harus dipakai agar bakat-potensi anak berkembang seimbang sepurna dan utuh berdasarkan petunjuk dari Sang Maha Pencipta, Allah Robbul’alamin yaitu Al-Quran. Karena Al-Quran sebagai sumber agama Allah telah dipersiapkan untuk menjaga, memelihara membimbing, mendidik, menjaga fitrah manusia agar menjadi manusia sempurna. Apabila manusia siap mengikuti petunjuknya Allah sendiri yang akan mengajarkan sendiri dan akan memberi petunjuk, sebagai mana firman Allah QS.2: 282 yaitu: “ Bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepadamu apa-apa yang kamu tidak ketahui” dan QS. 64:11, “Dia Allah akan menurunkan petunjuk-Nya kepada hati manusia”.

B. Pendidikan Terpadu
Pendidikan terpadu adalah pendidikan pengembangan bakat-potensi berdasarkan fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia. Pengembangan potensi tersebut tumbuh secara beriringan, tanpa ada yang tertinggal, dijaga dibina sehingga meraih kesempurnaan. Bakat-potensi tersebut berupa ruh, rasa, hati, akal dan nafsu. ( Ki Munadi, tp. th). Hal ini seperti tercantumkan dalam Al Quran 30:30, yaitu: “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Berdasarkan ayat tersebut bahwa terdapat hubungan yang linier antara fitrah (potensi suci) manusia, dengan agama ciptaan Allah (Islam), jika manusia ingin berada pada jalan yang lurus
Ruh merupakan unsur potensi ketenagaan zat hidup yang menghidupkan, memiliki sifat arah pengembangan bakat kekuatan. Yang dimaksud unsur sifat kekuatan adalah kekuatan iman yang berfungsi untuk mengkokohkan hati. Tanpa ada kekuatan iman sebagai pengokoh hati, pasti setiap saat hati mengalami goncangan terutama dalam menghadapi gejolak yang disebabkan lajunya pertumbuhan kehidupan.
Iman sendiri pada mulanya bersifat benih. Sejak awal manusia dicipta, benih iman itu telah Allah pasangkan dalam wadah titik kecintaan –Nya, tetapi jika tidak mendapat siraman murni dari ruh pasti pertumbuhannya mengalami kelayuan yang berarti kelemahan. Jadi kelemahan sebagai sifat dasar manusia akan berkembang menjadi kelemahan jika iman mengalami kelayuan, begitu pula sebaliknya, jika iman mengalami kelayuan, maka akan muncul kelemahan dalam manusia. Cara menyiram ruh yang tersimpan dalam wadah kecintaan-Nya adalah dengan adanya rutinitas ruh menjumpai Allah, semakin sering ruh berjumpa dengan Allah, semakin subur iman itu tumbuh.
Rasa merupakan unsur yang paling peka terhadap keindahan sifat-sifat Allah. Memiliki arah pengembangan bakat menjadikan menusia senantiasa tampil dalam keindahan dalam segala tindak perbuatan. Manusia yang tidak memiliki rasa (mati rasa), selamanya tidak akan bisa menikmati suatu keindahan. Meskipun ia beranggapan dan mengakui bisa menikmati keindahan dengan rasa, tetapi yang mendorong munculnya keindahan adalah rasa nafsu, yang bersifat sementara dan selalu berubah-ubah. Dan satu hal, perbedaan prinsip rasa indah yang dimunculkan karena nafsu adalah rasa ketidak-puasan, tetapi rasa indah yang muncul dalam hati selaku menimbulkan rasa tentram baik buat dirinya sendiri maupun orang lain.
Sifat keindahan rasa yang dimunculkan dari dalam hati diserap langsung oleh hati dari sifat keindahan Allah kemudian disambut oleh unsur ketenagaan rasa, maka muncullah rasa keindahan Ilaahiyah yang bersifat berkelanjutan tanpa sedikitpun mengakibatkan gejolak. Dari keindahan rasa yang bersifat Ilaahiyah, muncul rasa kelembutan kemudian mencuat rasa kasih dan sayang. Dengan demikian, kelembutan dan kasih sayang seseorang tidak akan pernah muncul jika sifat keindahan tidak bisa ditumbuh-kembangkan melalui unsur ketenagaan hati dan rasa. Dengan unsur sifat keindahan yang berbuah kelembutan dan kasih sayang, manusia dapat memanfaatkan bumi dan isinya tanpa menimbulkan kerusakan-kerusakan terhadap alam sekitarnya. Sifat indah yang dimaksud bukan sifat indah menurut ukuran manusia, melainkan sifat indah yang diperoleh dari penyerapan sifat-sifat Allah.
Hati merupakan pusat kegiatan manusia, fungsi utamanya mendengar dan membaca seluruh isyarat gerak getar yang bersifat pemberitaan, baik yang berhubungan langsung dengan alam maupun yang berhubungan langsung dengan Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran, bahwa Allah menurunkan petunjuk-Nya ke dalam hati manusia. Inilah yang dimaksud hati sebagai wadah pusat pemberitaan. Sedangkan pembawa beritanya adalah Ruh, karena Ruh inilah yang senantiasa berhubungan langsung dengan Allah, kemudian dikirim ke hati, untuk selanjutnya dikembangkan oleh akal dan dilaksanakan oleh nafsu. Sedangkan arah pengembangan hati adalah menjadikan manusia yang bersifat intelektual yang spiritual atau manusia yang bersifat spiritual yang intelektual.
Akal merupakan unsur yang memiliki arah pengembangan bersifat untuk menjadikan manusia tampil membawa sifat kemuliaan. Sebagaimana yang telah diketahui hati yang terjaga kehidupannya akan menjadi pusat kegiatan yang bersifat hakiki karena dari hati itulah memancarkan berbagai macam keilmuan baik yang bersifat spiritual maupun intelektual. Untuk pengembangan intelektual. Akallah yang mengambil peranan pengembangannya sehingga akal dan hati yang dapat bekerjasama dengan baik akan menghasilkan menusia yang intelektual berkeilmuan murni terpadu bersifat Qurani. Dengan mencuatnya keilmuan murni terpadu bersifat Qurani, muncullah sifat kemuliaan dalam diri manusia, sehingga manusia dapat menjaga, mengelola,dan memanfaatkan bumi dan isinya. Dengan demikian seseorang baru dapat dikatakan memiliki sifat kemuliaan, jika dalam dirinya mencuat keilmuan murni yang bersifat Qurani, dan keilmuan murni ini bisa mencuat jika hati dan akal dapat bekerjasama dengan baik. Dengan kata lain fungsi akal adalah untuk menyusun dengan rapi dan indah apa-apa yang telah didengar dan dibaca oleh hati.
Nafsu merupakan unsur yang cenderung membawa manusia pada sifat kehinaan dan kelemahan. Tetapi jika unsur ketenagaan nafsu dalam pertumbuhan mengikuti 4 unsur ketenagaan lainnya, yaitu ruh, hati, rasa, dan akal maka sifat kehinaan dan kelemahan yang dibawa oleh nafsu berubah menjadi sifat keterpujian. Kehinaan dan kelemahan dapat hilang dari diri manusia jika kekuatan iman tumbuh dengan subur. Tugas pokok manusia terhadap dirinya sendiri agar membawa dan mengarahkan nafsu kokoh dengan keterpujian, sedangkan fungsi nafsu hanya sekedar pelaksana dengan lurus terhadap apa–apa yang telah dirumuskan oleh akal berupa rumusan keintelektualan spiritual dan spiritual yang intelektual.

C. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dimasa mendatang terutama meliputi bidang bioteknologi, teknologi bahan, (materials technology), bidang mikro-elektronika,dan informatika. (Soedjatmoko, dkk, 1991:8). Salah satu dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang teknologi informasi adalah gaya hidup teknologi canggih dengan tempo yang lebih tinggi makin meluas, baik di empat kerja, di rumah maupun dalam kehidupan masyarakat (seperti dalam perjalanan, pembelajaan, dsb.). Pola berhubungan berubah baik di tempat kerja maupun di masyarakat. Komunikasi yang asalnya vertikal akan menjadi multi arah, yaitu vertikal, horizontal dan diagonal. (J.L. Parapak dan Raka joni, 1990: 7-8). Untuk di Indonesia pemanfaatan teknologi informasi tidak saja terjadi secara geografis dan lintas sektoral juga keperingkat umum pemakai yang makin muda. (LAN RI, 1993: 16) menurut John Naisbit dengan kemajuan dibidang bioteknologi keputusan etika individual akan menentukan dan berkuasa dan apakah manusia secara spiritual menjalankannya. (Jhon Naisbit dan P. Aburdene, 1990: 291).
Sekarang marilah kita amati bersama dengan hati yang bening, teknologi-teknologi apa saja yang sudah digelar atas hasil rekayasa manusia saat ini, mana yang menimbulkan gejolak dan mana yang menimbulkan suatu ketentraman di hati masyarakat. Interpretasi bebas dan sepenuhnya terserah para pendidik. Berikut ini disajikan berbagai macam teknologi yang telah dikembangkan atas dasar rekayasa manusia.
1. Teknologi yang paling banyak mendapat sorotan masyarakat adalah rekayasa makhluk biologi (bio-technology), baik pada tanaman, hewan, sampai manusia, contohnya :
Tanaman
Dengan menggunakan rekayasa genetic (genetic enginnering) diperoleh berbagai jenis tanaman yang sesuai dengan kemauan manusia, baik dalam hal ukuran, maupun warna seragam, produktivitas tinggi, umur pendek, dan diduga tahan terhadap gangguan tertentu seperti serangan hama dan penyakit tertentu.
Hewan dan Manusia
Rekayasa Kloning katak tanpa kepala yang akan dianalogkan dengan manusia tanpa kepala, sehingga organ-organnya dapat dengan mudah digunakan untuk bahan transplantasi organ manusia lain yang membutuhkan, tanpa memiliki beban moril yang selalu membayanginya. Kloning pada babi untuk organ transplantasi juga dilakukan tetapi masih gagal.
Kloning pada domba yang melahirkan domba betina penghasil susu yang banyak dan dapat digandakan dalam jumlah sesuai dengan kemauan manusia. Sebelum lahirnya, tim ini mengalami kegagalan sebanyak 277 kali. Setelah dianggap sukses dengan rekayasa itu, kelompok lain mencuatkan domba gabungan antara gen domba dan gen manusia. Gen manusia yang dimasukkan ke dalam gen domba (transgenic)itu akan membuat susunya mengandung protein manusia yang kemudian diekstrak dan diberikan kepada pasien yang kekurangan protein.

2. Teknologi Industri
Dalam satu sisi, industri dianggap membawa dampak positif dalam bentuk keuntungan sesaat. Tetapi disisi lain bukan menjadi rahasia lagi, bahwa ada dampak negatif dengan munculnya industri, baik dampak yang tertuju pada fisik, biologis, sosial dn ekonomi maupun tatanan budaya masyarakat, misalnya yang terjadi pada industri pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, pertekstilan dan lain-lain. Penggunaan bahan-bahan yang menyumbang gas rumah kaca telah mengakibatkan terjadinya penipisan ozon, sehingga sinar gelombang pendek (ultraviolet) dapat dengan mudah menerpa makhlik biologi dan menimbulkan gangguan fisiologis
3. Teknologi Elektronika
Teknologi elektonika menghasilkan berbnagai macam alat telekomunikasi, baik berbentuk TV, internet, telepon genggam, komputer maupun alat permainan. Khususnya alat telekomuniaksi yang memudahkan dalam menyebarkan berbagai macam informasi. Tidak dipungkiri benda-benda tersebut oleh manusia dianggap bermanfaat, tetapi apakah tidak dapat dirasakan dampak negatif dari benda-benda tersebut? Terutama sang bagi pendidik yang merasa tidak lagi menjadi sumber informasi bagi anak didiknya karena dihadang berbagai informasi sebagai hasil lajunya pertumbuhan teknologi.
4. Dan masih banyak lagi teknologi lain serta perkembangan teori-teori yang menunjang munculnya teknologi, antara lain perkembangan tentang penelusuran asal usul manusia yang dikenal dengan missing link.
Marilah kita merenung lebih dalam tentang apa yang terjadi saat ini? Apakah teknologi diatas telah membuat manusia merasa semakin damai, tenang dan martabatnya semakin meningkat? Mengapa pertanyaan tersebut mencuat? Selanjutnya, mengapa di dalam perkembangan teknologi yang demikian pesat (khususnya di dalam bioteknologi) ramai dibicarakan tentang bio-safety atau keselamatan biologi dan lingkungannya, bio-criminal atau kejahatan biologi, bio-democracy atau demokrasi di dalam memanfaatkan biologi. Dan bagi seluruh disiplin ilmu yang telah diperebutkan tentang intelectual property right. Istilah-istilah ini muncul karena di dorong oleh adanya kemauan untuk berlomba-lomba meraih prestasi dan prestise, sehingga ada fihak-fihak lain yang merasa dikorbankan. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang laras-lurus kehendak Robb adalah bersifat tepat guna, wujudnya tidak menimbulkan gejolah dan mendukung terhadap peningkatan harkat dan martabat manusia. Sesuai dengan fitrah masing-masing unsur potensi dasar (ruh, rasa, hati, akal, nafsu) dalam diri manusia adalah tumbuh berkembang dengan bebas, tersirat ma’na bahwa pertumbuhan yang selaras terhadap ke lima unsur potensi dasar seharusnya dilakukan atas dasar pendidikan yang tanpa penekanan dan pemaksaan. Tetapi umpan pancing yang dilontarkan adalah menumbuhkan kesadaran.
Sebenarnya kesadaranpun tidak akan tumbuh berkembang, jika umpan pancing yang dilontarkan kepada kesadaran tidak didasari oleh kelembutan dan kasih sayang. Mengapa harus dengan kelembutan dan kasih sayang dalam menumbuhkan kesadaran? Karena kesadaran telah tertutup atau dipagari oleh kekerasan. Siapakah kekerasan itu? Tidak lain adalah noda-noda dosa. Sabagai bahan renungan mendalam, mengapa Allah tidak menghancurkan noda-noda dosa para hamba-Nya dengan seketika, atau mengapa setiap perbuatan dosa tidak langsung mendapatkan hukuman. Dari gambaran ini dapatlah dipetik pelajaran, bahwa penghancuran dosa tidak dapat dilakukan dengan kekerasan (hukuman seketika). Sebab hukuman seketika tidak mendidik untuk menumbuh-kembangkan kesadaran rasa. Keadaan demikian ini boleh jadi belum banyak dimengerti oleh para pendidik. Ingatlah sebenarnya sifat pendidik yang ada pada manusia adalah tetean dari sifat Allah selaku Robb, yakni selaku Maha Mendidik. Sangat disayangkan, jika sifat pendidik yang Allah teteskan ke dalam diri manusia tidak sejalan dengan sifat pendidik-Nya. Dalam hal ini, hanya kepada manusi sajalah sifat Allah selaku Dzat Maha pendidik diwariskan. Mengingat manusia diciptakan Allah sebagai kholifah, sedangkan syarat sebagai seorang kholifah harus memiliki jiwa mendidik. Selain manusia tidak ada yang Allah warisi sifat mendidik. Tetapi anehnya, mengapa jumlah terbesar manusia, mendidik tidak seperti Allah mendidik. Tidak disadari, seringkali manusia mendidik penuh dengan kekerasan, penekanan dan pemaksaan. Penekanan dan pemaksaan yang berkelanjutan, cepat atau lambat pasti akan menimbulkan gejolak. Dengan demikian ciri pendidikan terpadu tidak mendoktrin manusia, melainkan menumbuh-kembangkan potensi dalam diri hingga mencapai pengertian yang haqiqi melalui kecerdikan. Sebab bila manusia dididik dengan mendoktrin, sama halnya dengan membunuh pertumbuhan bebas potensi dalam diri.
Itulah sebabnya ciri pendidikan terpadu, setiap pertanyaan, jawabannya selalu diserahkan pada pengembangan pengertian. Bukan jawaban bersifat intruksi atau doktrin harus begini dan begitu. Mengapa pengertian dan pemahaman menjadi sasaran pertama? Bahkan untuk memperoleh pemahaman dan pengertin tentang sesuatu yang mengandung ilmu, Rasulullah Muhammad SAW menuntunkan doanya sebagaimana termuat dalam sebuah Hadist, yakni :

رَبِّ زِدْنِي عِلْمَا وَارْزُقْنِي فَهْمَا

Yang artinya : “Wahai Robbi, tambahkanlah kepada hamba-Mu ini ilmu dan karuniakanlah pemahamannya”.
Sebab dengan pengertian atau pemahaman akan menjadikan seseorang mudah bertanggung jawab terhadap sikapnya, bahkan setiap langkah yang diambil kemudian diputuskan selalu tepat dan pasti. Salah satu kelemahan transfer pemahaman melalui logika adalah setiap memperoleh informasi atau melihat sesuatu laut semua diterima, barulah kemudian disaring, mana yang baik dan mana yang buruk, jika sesuatu belum diketahui dengan pasti, mana langkah yang terbaik adalah menerima tanpa penilaian, barulah kemudian dipertanyakan kepada yang tahu secara pasti kebenarannya. Langkah demikian ini secara tidak langsung telah mengikatkan tali hubungan yang berkesinambungan dengan Yang Maha Benar, Yang Maha Mendidik. Demikian hendaknya sifat dan sikap para pendidik sejati pengabdi Allah. Semoga kita semua menjadi para pendidik sejati pengabdi Allah, Amien.

D. Pendidikan Terpadu berdasarkan Quran sebagai Solusi mengatasi Problema Hidup
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita rasakan sekarang ini hanya menjadikan manusia makin angkuh, egois, merasa dirinya serba bisa. Dengan logikanya kadang-kadang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan hanya membawa kepalsuan belaka, bertentangan dengan kejujuran ilmiah. Tidak sedikit temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi tidak membawa kepada kebermanfaatan dan kebermaknaan yang hakiki. Memang kadang-kadang pada awalnya temuan tersebut terasa terasa sangat bermanfaat, karena kita seolah-olah mendapatkan solusi yang instan dari problema yang dihadapi manusia, tetapi pada akhirnya hanya membawa malapetaka bagi manusia. Tidak sedikit kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diwarnai dengan kedengkian, kebencian, menguasai orang lain, tidak meningkatkan pada kepedulian pada orang lain. Yang paling fatal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia makin jauh dengan Allah, melanggar perintah Allah, menjadi manusia ingkar kepada Allah.
Fenomena ini terjadi karena apa yang ditemukan manusia (ilmu pengetahuan dan teknologi) diperoleh dengan didorong oleh pemenuhan hawa nafsu, logika diri, yang tidak bersumber pada bimbingan Ilahi. Firman Allah dalam surat Al Jaziah : 23 berbunyi :” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, Allah membiarkannya sesat berdasarkan berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan di atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkan sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
Kontribusi pendidikan terpadu berdasarkan Al-Quran dalam dunia pendidikan, yaitu bagaimana agama berfungsi meningkatkan kesadaran manusia, supaya manusia berkembang sesuai dengan fitrahnya. Peran pendidikan tersebut adalah bagaimana ruh manusia menyerap nilai-nilai ilahiyah seperti yang terdapat dalam ajaran agama. Ruh manusia secara fitrah ingin selalu dekat dengan Allah, taat dan patuh perintah Allah, ingin selalu bermesraan dengan Allah. Kemudian ruh yang menyerap nilai-nilai keimanan tersebut mempengaruhi potensi suci yang lain, seperti rasa, hati, akal dan nafsu. Rasa yang dipengaruhi ruh dan sinar keimanan (nilai Ilahiyah) akan menjadikan manusia menjadi santun, lembut, penuh kasih sayang terhadap sesama, saling mencintai, peduli kepada kelompok masyarakat yang mengalami problema hidup. Akalnya digunakan untuk berfikir, bersikap, berperilaku dan membela yang benar. Dia lebih mengutamakan kegiatan yang bermakna, bermanfaat, sehingga hidupnya menjadi tenang, tentram, bahagia. Nafsu yang dibimbing nur Ilahiyah, secara bertahap mutunya naik, dari nafsu ammarah ke nafsu lawwamah, nafsu mutmainnah, nafsu mulhamah, nafsu radiyah, nafsu mardiyah dan terakhir menjadi nafsu kamilah (manusia sempurna). Pendidikan terpadu berdasarkan Qurani bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ditemukan manusia makin membawa kesadaran dan pencerahan kedekatan manusia kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT.
Beberapa cara untuk meningkatkan kesadaran dan pencerahan ruhaniah ilahiyah yang dapat dilakukan, salah satu diantaranya yaitu:
1 Dzikir kepada Allah, yaitu bagaimana seseorang selalu mengingat Allah kapan saja, bilamana saja dan dimana saja, baik dzikir lisan, dzikir hati maupun dzikir perbuatan. Jadikanlah penguasaan pengetahuan dan teknologi dalam rangka media mengagungkan dan membesarkan nama Allah SWT
2 Sholat, mengerjakan dan memperbaiki mutu sholat, baik sholat wajib maupun sholat sunnah Jadikanlah bahwa hidup ini sebagai perwujudan ibadah dan iman kepada Allah SWT.
3 Mempelajari dan mengamalkan Al Quran (dan Hadist), sebagai sumber dari ajaran Islam hendaknya dijadikan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi dan mewarnai dalam semua sisi kehidupan
4 Puasa, baik yang wajib maupun yang sunnah, sebagai fungsi pengendalian diri, mengingkatkan kesabaran, dan tidak mudah putus asa dari rahmat Allah.
5 Jihad dalam arti luas, yaitu berjuang untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupam bermasyarakat.
6 Kasih sayang kepada sesama, meningkatkan hubungan silaturrahmi, peduli terhadap sesama, santun, empati, menafkahkan sebagian rezeki untuk orang yang memerlukan dalam bentuk zakat, sadaqah, infak, maupun bantuan lainnya dsb.
E. Penutup
Pendidikan Terpadu bersifat Qurani akan menjadi pendidikan alternatif dalam era teknologi informasi karena merpakan pendidikan menyeluruh sesuai dengan potensi fitrah manusia yang dikehendaki oleh Sang Pencipta Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA

Al Quran dan Terjemahannya , Departemen Agama RI.

Ary Ginanjar, Kiat Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual “ESQ”, Jakarta:Arga, 2001

———, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan, Jakarta : Arga 2003.

Conny R. Semiawan, Soedijarto, (Ed.), Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Abad 21, Jakarta: Gramedia, 1991.

Daniel Goleman, Emotional Intelligence, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Emil salim, Sumber Daya Manusia dalam Perspektif. Di sampaikan dalam seminar Nasional Kependidikan yang diselenggarakan IKIP Jakarta tanggal 8-9 Agustus 1988.

John Naisbit & Patricia Aburdene, FX Budiyanto ( alih bahasa ), Sepuluh Arah Baru Untuk Tahun 1990-an, Megatrend 2000, Jakarta: Binarupa Aksara, 1990.

Jonathan L.P. & Raka Joni, Revolusi Teknologi Informasi dan Strategi Dunia Pendidikan, Disampaikan dalam seminar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama dan Budaya (PUSTAKA) Malang, 26 Mei 1990.

Joy A. Palmer (ed.), 50 Pemikir Pendidikan dari Piaget Sampai Sekarang , Yogyakarta: Jendela, 2003.

Ki Munadi, Kebenaran Adalah Pengarah Pembentukan Pengembangan Bakat-Potensi Manusia ( tp.th ).

———, Nafsu Diri Penggersang Perasaan Hati (tp,th ).
———, Pedidikan Terpadu Bersifat Qurani (tp.th ).

LAN RI, Teknologi Informasi Jakarta: LAN RI, 1993

Muhammad A.Khalafullah, Al-Qur’an bukan “Kitab Sejarah”, Seni, Sastra dan Moralitas dalam Kisah-Kisah Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2002.

Robert Frager, Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Diri dan Jiwa, Jakarta : Serambi, 1999

Soedjatmoko, Manusia dan Dunia yang Sedang Berubah, Disampaikan dalam seminar Nasional Kependidikan yang diselenggarakan oleh IKIP Jakarta tanggal 8-9 Agustus 1988.

Wan Mohd Nor W.D., Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan Media Utama, 1998.

Tentang wawan ahmad

Lahir di Tumih Kec.Wanaraya Batola sekarang tinggal di banjarbaru lagi belajar menambah ilmu
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pendidikan Terpadu Bersifat Qurani Dalam Era Teknologi Informasi Oleh : Dr.H. Karyono Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s