PENGEMBANGAN MODEL SISTEM PENILAIAN BERBASIS KELAS DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

PENGEMBANGAN MODEL
SISTEM PENILAIAN BERBASIS KELAS
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
DI SEKOLAH DASAR

Oleh:
Dr. Lely Halimah, M.Pd.
Dra. Realin Setiamiharja, M.Pd.
Dra. Ernalis, M.Pd.

Dibiayai oleh :
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional,
proyek Nomor 032/SP2H/PP/DP2M/III/2007

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2007

Lely Halimah, dkk

ABSTRAK
Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah agar guru-guru memiliki kompetensi profesional dalam melaksanakan penilaian. Mengingat penilaian merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Adapun target langsung yang ingin dicapai adalah menghasilkan model sistem penilaian berbasis kelas yang berorientasi pada pencapaian standard kompetensi berbahasa Indonesia. Model sistem penilaian berbasis kelas yang akan dihasilkan ini sangat bermanfaat bagi para guru sekolah dasar, mengingat perubahan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti dengan perubahan praktik-praktik pembelajaran di kelas yang dengan sendirinya akan mengubah praktik-praktik penilaian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development). Kegiatan penelitian secara operasional dilakukan dalam jangka waktu dua tahun. Kegiatan penelitian yang dilakukan pada tahap pertama, adalah studi pendahuluan dan pengembangan model. Pada tahap studi pendahuluan, dilakukan studi lapangan dan studi literatur yang bertujuan untuk menentukan need assessment dalam kaitannya dengan pelaksanaan penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Hasil studi pendahuluan dijadikan dasar bagi perumusan dan pengembangan model, yang kemudian dilakukan uji kelayakan model.
Hasil yang diperoleh pada tahap pertama ini adalah (1) profil lapangan yang menggambarkan bahwa pada umumnya guru masih belum memahami dengan baik tentang sistem penilaian berbasis kelas. (2) Kerangka awal model sistem penilaian berbasis kelas yang bersifat komunikatif, yang meliputi tiga tahap, yaitu (a) tahap perencanaan merupakan langkah persiapan yang harus dilakukan oleh guru yang akan melakukan penilaian, (b) tahap pengumpulan data yang meliputi kegiatan pengumpulan informasi yang diperlukan, dan kegiatan analisis dan pencatatan informasi yang diperoleh, dan (c) tahap penilaian meliputi kegiatan pembuatan pertimbangan dan pengambilan keputusan, yang ditindaklanjuti dengan kegiatan pelaporan terhadap pihak-pihak terkait. (3) Kerangka awal pedoman pengembangan model sistem penilaian berbasis kelas yang dirancang agar dapat memberikan arahan-arahan yang bersifat praktis dalam pengembangan model sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Secara garis besar, pedoman ini meliputi empat bagian, yaitu bagian pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan, ruang lingkup, dan sasaran. Bagian dua berisi konsep dasar sistem penilaian berbasis kelas, yang meliputi pengertian, manfaat, prinsip, dan rambu-rambu. Bagian tiga, berisi teknik penilaian yang meliputi penentuan standar, indikator, teknik penilaian, dan cara penilaian. Bagian keempat, membahas tentang pelaporan hasil penilaian meliputi pengertian, bentuk pelaporan, dan teknik pelaporan. Saran yang dikemukakan adalah bahwa hasil penelitian ini perlu dilakukan uji coba lebih luas untuk menguji keterandalannya.
Kata Kunci : Penilaian Berbasis Kelas dalam Pembelajaran Bahasa Indinesia
A. Pendahuluan

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 57 menyatakan bahwa (1) evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, (2) evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan. Sementara dalam pasal 58 ayat (1) menyatakan bahwa evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
Isi undang-undang tersebut, pada dasarnya mengisyaratkan bahwa fungsi penilaian di dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan penilaian itu sendiri. Sebagaimana dilihat dari hakikat penilaian adalah suatu upaya untuk mengetahui ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan. Suatu proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam suatu satuan pendidikan tidak akan dapat diketahui hasilnya apabila guru tidak mampu melakukan pengukuran hasil belajarnya. Dengan dilakukannya pengukuran hasil belajar, guru akan mengetahui keberhasilan belajar peserta didiknya dan menjadi umpan balik bagi guru dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran selanjutnya. Dalam hakikat penilaian tersebut tersirat bahwa tujuan penilaian ialah untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Di samping itu, juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai di mana keefektifan pengalaman-pengalaman belajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode pembelajaran yang digunakan. Dengan demikian, dapat dikatakan betapa penting peranan dan fungsi penilaian itu dalam proses belajar-mengajar.
Dalam arti luas, penilaian atau evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka setiap kegiatan penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data dan berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan. Dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran, evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran telah dicapai oleh peserta didik.
Secara rinci, fungsi penilaian dalam pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi empat fungsi, yaitu (a) untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan peserta didik setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil penilaian ini selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar peserta didik (fungsi formati), dan untuk menentukan kenaikan kelas atau untuk menentukan lulus-tidaknya seorang peserta didik dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif); (b) untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pembelajaran. pembelajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. komponen-komponen yang dimaksud antara lain ialah tujuan, materi atau bahan pembelajaran, metode dan kegiatan belajar-mengajar, alat dan sumber belajar, dan prosedur serta alat penilaian; (c) untuk keperluan bimbingan dan konseling, terutama untuk mengetahui hal-hal apa seorang peserta didik atau sekelompok peserta didik memerlukan pelayanan remedial, sebagai dasar dalam menangani kasus-kasus tertentu di antara peserta didik; dan sebagai acuan dalam melayani kebutuhan-kebutuhan peserta didik dalam rangka bimbingan karir; (d) untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah. Hal ini berkaitan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan evaluasi dalam rangka menilai keberhasilan belajar peserta didik dan menilai program pembelajaran, yang berarti pula menilai ketercapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
Terkait dengan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia, mengapa menjadi sangat penting dilakukan oleh guru. Salah satu alasannya adalah karena pendidikan bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan. Sementara menurut Longstreet, dkk (1993: 298) “… the mastery of language skills is a prerequisite to over-all academic success at every stage of development from childhood to adult years.” Begitu pentingnya keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia, maka untuk melihat keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia, memerlukan sistem penilaian yang tepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana model sistem penilaian berbasis kelas yang relevan dengan tuntutan pelaksanaan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar? Untuk memecahkan masalah tersebut, maka pada tahun pertama yang menjadi pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana kondisi lapangan dalam mengembangkan sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia?
2. Model sistem penilaian berbasis kelas yang bagaimana yang sesuai dengan tuntutan pelaksanaan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia untuk sekolah dasar?
3. Pedoman yang bagaimana yang dapat menjadi petunjuk praktis bagi guru dalam implementasi model sistem penilaian berbasis kelas dalam pelaksanaan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar?

C. Studi Pustaka
1. Pembelajaran Bahasa Indonesia
Standar kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomununikasi dalam Bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Standar kompetensi tersebut dimaksudkan agar peserta didik siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. Untuk itu, maka guru harus dapat membantu mereka membangun berbagai strategi komunikasi yang membuat mereka dapat menghadapi situasi kritis yang akan mereka hadapi.
Terkait dengan kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran bahasa Indonesia, secara khusus pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan.

2. Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran ini, terdapat model-model penilaian pembelajaran keterampilan berbahasa baik lisan maupun tulis. Menurut Sugito (Santosa, 2003) penilaian pembelajaran keterampilan berbahasa lisan, meliputi penilaian menyimak dan berbicara, sementara penilaian keterampilan berbahasa tulis meliputi penilaian keterampilan membaca dan menulis. Sementara menurut Soegito (Santosa, 2003) dan menurut Oller ( Rofi’uddin, 1999) jenis-jenis tes yang dapat digunakan untuk menilai kemamampuan berbahasa banyak ragamnya, seperti jenis tes untuk penilaian pembelajaran menyimak, di antaranya tes respons terbatas, tes respons pilihan ganda, tes komunikasi luas, dan dikte. Sementara dalam penilaian kemampuan berbicara terdapat jenis tes, yaitu tes respon terbatas, tes terpadu, dan tes wawancara, tes kemampuan berbicara berdasarkan gambar, bercerita, diskusi, dan tes ujaran terstruktur, seperti mengatakan kembali, membaca kutipan, mengubah kalimat, dan membuat kalimat.
Adapun model penilaian dalam pembelajaran keterampilan berbahasa tulis mencakup penilaian membaca dan menulis. Aspek penting dalam penilaian membaca adalah pemahaman. Jenis-jenis tes yang dapat digunakan untuk menguji kemampuan membaca peserta didik SD, di antaranya adalah tes pemahaman kalimat dan tes pemahaman wacana, tes cloze, menceritakan kembali, tes meringkas, tes subjektif, dan tes objektif. Sementara penilaian menulis, di antaranya meliputi tes pratulis, tes menulis terpadu, dan tes menulis bebas, tes menulis berdasarkan rangsangan gambar, tes menulis berdasarkan rangsangan suara, tes menulis dengan rangsangan buku, tes menulis laporan. Dengan demikian, maka penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan pengamatan (nontes) dan pengukuran (tes). Kedua macam penilaian ini, dapat digunakan untuk saling melengkapi sehingga dapat memberikan gambaran hasil belajar peserta didik secara lengkap dan holistik.
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen kurikulum yang memuat prinsip, sasaran dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik melalui identifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai, pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan. PBK dilakukan untuk memberikan keseimbangan pada ketiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dengan menggunakan berbagai bentuk dan model penilaian secara resmi maupun tidak resmi dengan berkesinambungan.
PBK merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. PBK mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar peserta didik dan pelaporan. PBK menggunakan arti penilaian sebagai “assessment” yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar peserta didik pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan belajar mengajar. Data atau informasi dari penilaian ini merupakan salah satu bukti yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan. Dengan demikian, maka PBK merupakan penilaian yang dilaksanakan terpadu dengan kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulan kerja peserta didik (portfolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tertulis (paper and pen).
PBK yang dilakukan guru secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran berguna untuk (a) umpan balik bagi peserta didik dalam mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi untuk memperbaiki hasil belajarnya; (b) memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar peserta didik sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remediasi untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya; (c) memberikan masukan bagi guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas; (d) memungkinkan peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditentukan walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda; (e) memberikan informasi yang lebih komunikatif kepada masyarakat tentang efektivitas pendidikan sehingga mereka dapat meningkatkan partisipasinya di bidang pendidikan.
Dilihat dari keterkaitan antara penilaian berbasis kelas dengan proses belajar mengajar bahasa Indonesia, bahwa penilaian mempersyaratkan adanya keterkaitan langsung dengan aktivitas proses pembelajaran. Demikian pula, proses belajar mengajar akan berjalan efektif apabila didukung oleh penilaian berbasis kelas yang efektif oleh guru. Penilaian merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar. Kegiatan penilaian harus dipahami sebagai kegiatan untuk mengefektifkan proses belajar mengajar agar sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Stigging (Furqon, 2001) bahwa “Assessment as instruction”, maksudnya bahwa “Assessment and teaching can be one and the same”. Dengan demikian penilaian pembelajaran bahasa Indonesia harus dilakukan guru secara terencana, sistematik, dan berkesinambungan sebagai strategi dalam quality assurance.
Keterkaitan dan keterpaduan antara penilaian dan proses belajar mengajar dapat digambarkan pada siklus di bawah ini.

Rencana Mengajar

Analisis & Proyek
Umpan Balik Belajar Mengajar

Penilaian
Berbasis Kelas

Siklus Proses Belajar Mengajar dan Penilaian

Gambar di atas menunjukkan bahwa langkah yang guru lakukan dalam rangkaian aktivitas pengajaran meliputi rencana mengajar, proses belajar mengajar, penilaian, analisis dan umpan balik. Dalam siklus pembelajaran, hal pertama yang harus dilakukan oleh guru adalah menyusun rencana mengajar. Dalam menyusun rencana mengajar ini hal-hal yang harus dipertimbangkan meliputi rincian komponen yang harus dicapai peserta didik, cakupan dan kedalaman materi, indikator pencapaian kompetensi, pengalaman belajar yang harus dialami peserta didik, persyaratan sarana belajar yang diperlukan, dan metode serta prosedur untuk menilaian ketercapaian kompetensi.
Setelah rencana pengajaran tersusun dengan baik, guru melakukan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana tersebut. Hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam proses belajar mengajar ini adalah adanya interaksi yang efektif antara guru, peserta didik dan sumber belajar lainnya sehingga menjamin terjadinya pengalaman belajar yang mengarah ke pencapaian kompetensi oleh peserta didik. Untuk mengetahui dengan pasti ketercapaian kompetensi dimaksud, guru melakukan penilaian secara terarah dan terprogram. Penilaian harus digunakan sebagai proses untuk mengukur dan menentukan tingkat ketercapaian kompetensi, dan sekaligus untuk mengukur efektivitas proses belajar mengajar. Untuk itu, penilaian yang efektif harus diikuti oleh kegiatan analisis terhadap hasil penilaian dan merumuskan umpan balik yang perlu dilakukan dalam perencanaan proses belajar mengajar berikutnya. Dengan demikian, rencana mengajar yang disiapkan guru untuk siklus proses belajar mengajar berikutnya harus didasarkan pada hasil dan umpan balik penilaian sebelumnya. Jika dilakukan, maka kegiatan belajar mengajar yang dilakukan sepanjang semester dan tahun pelajaran merupakan rangkaian dari siklus proses belajar mengajar yang saling berkesinambungan.
Dilihat dari kesejarahannya, penilaian dalam pembelajaran bahasa dapat dipilah menjadi tiga kategori, yangni penilaian yang menggunakan pendekatan diskrit, integratif, dan pragmatik/komunikatif. Penilaian pembelajaran bahasa dengan pendekatan diskrit, menurut Oller (Rofi’uddin, 1994) merupakan penilaian yang hanya menekankan atau menyangkut satu aspek kebahasaan. Jika dalam kebahasaan dikenal adanya aspek fonologi, morfologi, sintaksis, maka akan dijumpai adanya penilaian tentang fonologi, morfologi, dan sintaksis. Selain itu, dalam keterampilan berbahasa dikenal adanya keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan keterampilan menulis. Oleh karena itu, juga dapat dijumpai adanya penilaian menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Penilaian pembelajaran bahasa dengan pendekatan integratif, kemunculannya sebagai reaksi terhadap penilaian diskrit yang dianggap memiliki banyak kelemahan. Tes integratif merupakan penilaian kebahasaan yang digunakan untuk mengukur beberapa aspek kemampuan atau keterampilan berbahasa. Dalam tes integratif, aspek-aspek kebahasaan tidak dipisah-pisahkan, melainkan merupakan satu kesatuan yang padu. Penilaian pembelajaran bahasa dengan pendekatan pragmatik, yaitu sebagai tes bahasa yang difungsikan untuk mengukur kemampuan berbahasa sesuai dengan situasi dan konteks pemakaiannya. Oller (Rofi’uddin, 1994) mengemukakan beberapa tes yang dapat dikategorikan sebagai tes pragmatik, yakni, cloze test, dikte, tanya jawab, wawancara, bercerita, mengarang, dan terjemahan.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian dan pengembangan ini secara umum bertujuan untuk mengembangkan suatu model sistem penilaian berbasis kelas yang berorientasi pada ketercapaian standard kompetensi berbahasa Indonesia di sekolah dasar. Hasil dari pengembangan ini, pada akhirnya diharapkan dapat memfailitasi guru-guru sekolah dasar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini dirancang ke dalam dua periode.
2. Tujuan Khusus
Tujuan kegiatan penelitian pada periode pertama (tahun ke-1) adalah sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi kondisi lapangan dalam melaksanakan penilaian pembelajaran bahasa Indonesia.
2. Mengembangkan kerangka awal desain model sistem penilaian berbasis kelas yang relevan dengan tuntutan KTSP berbasis kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.
3. Mengembangkan kerangka awal pedoman yang dapat menjelaskan prosedur pengembangan model sistem penilaian berbasis kelas yang sesuai dengan model sistem penilaian berbasis kelas hasil pengembangan.

3. Hasil yang Diharapkan
Penelitian dan pengembangan pada tahun ke 1 ini diharapkan dapat menghasilkan:
1. Dokumen hasil identifikasi dan pemetaan kompetensi dasar dan indikator serta kisi-kisi penilaian dalam pelaksanaan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.
2. Kerangka awal desain model sistem penilaian berbasis kelas yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
3. Kerangka awal pedoman pengembangan sistem penilaian berbasis kelas yang dapat digunakan sebagai acuan dan contoh konkrit bagi guru dalam melaksanakan model sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

4. Manfaat Penelitian
Penilaian berbasis kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang ditakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan “mengukur apa yang hendak diukur” dari peserta didik. Salah satu prinsip penilaian berbasis kelas yaitu, penilaian dilakukan oleh guru dan peserta didik. Hal ini perlu dilakukan bersama karena hanya guru yang bersangkutan yang paling tahu tingkat pencapaian belajar peserta didik yang diajarnya. Selain itu peserta didik yang telah diberitahu oleh guru tersebut bentuk/cara penilaiannya akan berusaha meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuannya.
Prinsip penilaian berbasis kelas lainnya yaitu: tidak terpisahkan dari KBM, menggunakan acuan patokan, menggunakan berbagai cara penilaian (tes dan non tes), mencerminkan kompetensi peserta didik secara komprehensif, berorientasi pada kompetensi, valid, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna, dan mendidik.
Diterapkannya standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan pada dasarnya membawa implikasi pada orientasi dan strategi penilaian di kelas oleh guru. Dengan demikian, penilaian kelas harus bersifat otentik, yakni penilaian yang menggunakan berbagai metode dan teknik yang sesuai dengan tujuan dan proses serta pengalaman belajar peserta didik. Penilaian kelas harus menjadi bagian integral dari keseluruhan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, agar tujuan dan fungsi penilaian lebih berdaya guna bagi perbaikan belajar peserta didik, maka berbagai metode dan teknik harus digunakan guru dalam melakukan penilaian kelas.
Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran, maka penilaian harus dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip yang melandasi pembelajaran, sebagaimana tertuang dalam kurikulum. Dalam kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia ditegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia dilaksanakan dengan pendekatan komunikatif. Dengan demikian, maka penilaiannya juga harus dilaksanakan dengan menganut prinsip-prinsip yang berlaku dalam pendekatan komunikatif.
Agar tujuan penilaian tercapai, guru harus menggunakan berbagai metoda dan teknik penilaian yang beragam sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik pengalaman belajar yang dilaluinya. Oleh sebab itu, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan kemahiran tentang berbagai metoda dan teknik penilaian sehingga dapat memilih dan melaksanakan dengan tepat metoda dan teknik yang dianggap paling sesuai dengan tujuan dan proses pembelajaran, serta pengalaman belajar yang telah ditetapkan.
Untuk itu, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoretis maupun secara praktis yang dapat dijadikan acuan bagi guru dalam mengimplementasikan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia. Salah satu perangkat acuan yang dibutuhkan guru tersebut adalah pedoman sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pedoman inilah yang ingin dihasilkan melalui penelitian ini, yang kemudian dinamakan model sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

E. Prosedur Penelitian
1. Langkah-langkah Penelitian
Penelitian ini mengacu kepada pendekatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dikemukakan Borg & Gall, (1979). Adapun langkah-langkah dan prosedur dalam penelitian dan pengembangan ini meliputi berikut ini.
a. Melakukan studi pendahuluan, yaitu kegiatan pengumpulan informasi yang meliputi penelaahan literatur berkenaan dengan upaya memahami sistem penilaian berbasis kelas, dan observasi lapangan untuk mengumpulkan informasi sekaitan dengan kebutuhan yang ada di lapangan;
b. Menyusun draf rancangan awal model pengembangan sistem penilaian berbasis kelas dengan mempertimbangkan temuan-temuan hasil studi pendahuluan. Draf rancangan awal model ini dibahas bersama para praktisi dan para ahli yang relevan, untuk menghasilkan produk awal model dan pedoman pengembangannya, yang kemudian dilakukan uji kelayakan dilihat dari keterbacaannya.
c. Mengadakan uji coba, meliputi uji coba terbatas dan uji coba lebih luas. Uji coba terbatas difokuskan kepada evaluasi proses untuk memperoleh informasi terkait dengan keterbacaan model. Sedangkan uji coba lebih luas, selain difokuskan kepada evaluasi proses juga difokuskan pada evaluasi hasil, yakni evaluasi yang diarahkan untuk menilai efektivitas model. Dari hasil uji coba ini diharapkan diperoleh informasi yang bermanfaat bagi penyempurnaan model dan pedoman pengembangannya.
d. Melakukan uji validasi model dan diseminasi. Uji validasi dilakukan untuk memperoleh data empirik tentang keterandalan model melalui eksperimen dengan membandingkan dua kelompok subyek, yakni antara kelompok yang mendapat perlakukan dengan menggunakan model hasil pengembangan dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan atau kelompok yang menggunakan model konvensional. Diseminasi yaitu langkah melaporkan produk pada pertemuan ilmiah serta dipublikasikan melalui jurnal, juga menyebarluaskan produk melalui seminar dan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru sekolah dasar.
Keseluruhan langkah-langkah dan prosedur penelitian dan pengembangan ini dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Studi Lapangan Perencanaan Pengembangan Validasi Pelaporan

STUDI LITERATUR
– Teori UJI COBA TERBATAS
– Hasil penelitian – Desain kasar
terdahulu – Implementasi
– Tujuan – Evaluasi
– Kemampuan – Penyempurnaan
STUDI LAPANGAN peneliti UJI MODEL
– Implementasi – Partisipan
model yang akan – Prosedur – Tes awal
dikembangkan – Uji kelayakan L
– Kondisi & kinerja terbatas – Imple- A
peserta didik alternatif UJI COBA LEBIH men P
– Kondisi & kinerja model LUAS O
guru – Desain halus R
– Sarana, alat, media – Implementasi – Tes khir A
dan sumber – Evaluasi N
– Lingkungan – Penyempurnaan
sekolah KONKLUSI

DESAIN FINAL

Tahun Pertama Ta Tahun Kedua

Bagan : Prosedur Penelitian dan Pengembangan

2. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh sekolah dasar yang ada di Kota Bandung. Untuk menentukan sekolah mana yang akan menjadi sampel penelitian ini, maka digunakan teknik sampling, yakni teknik random sampling dan purposive sampling. Penentuan random sampling dilakukan untuk kepentingan studi lapangan pada tahap studi pendahuluan dan tahap diseminasi. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah (1) membagi kota dan kabupaten bandung menjadi wilayah-wilayah kecamatan, (2) menentukan wilayah kecamatan sebagai sampel dengan menggunakan random sampling, (3) menentukan sekolah yang akan mewakili setiap kecamatan. Berdasarkan prosedur di atas, maka dari sekolah-sekolah yang tersebar di 26 kecamatan yang ada di kota Bandung telah ditetapkan jumlah dan jenis sekolah yang terdiri dari 7 kecamatan.

3. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, wawancara, analisis dokumen, observasi, tes dan nontes. Berdasarkan teknik pengumpulan data tersebut, dapat diperoleh data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskripsi yang dilakukan secara berkelanjutan sesuai data yang diperoleh. Adapun data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan metode analisis statistik, tepatnya menggunakan teknik analisis uji t dan anova yang dalam proses pengolahannya menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS.

F. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pengembangan pada tahun pertama, sesuai dengan masalah penelitian, maka kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Profil Lapangan
Berdasarkan hasil studi pendahuluan, dapat diidentifikasi profil lapangan berkenaan dengan pemahaman dan pelaksanaan sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dilihat dari pemahaman guru-guru tentang penilaian berbasis kelas seiring dengan kebijakan KBK, tampaknya pemahaman tentang penilaian berbasis kelas yang dimiliki oleh guru-guru tersebut masih dangkal. Artinya baru sampai memahami secara garis besar, belum memahasi secara mendalam bahwa penilaian berbasis kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan mengukur apa yang hendak diukur.

b. Kerangka Awal Model Sistem Penilaian Berbasis Kelas Hasil Pengembangan
Kerangka awal model sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia hasil pengembangan, merupakan gambaran sistematis langkah-langkah yang harus ditempuh guru dalam proses penilaian. Dalam hal ini dikembangkan prosedur yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut.
Langkah pertama merupakan langkah persiapan yang harus dilakukan oleh guru yang akan melakukan penilaian. Langkah kedua merupakan langkah pengumpulan data yang meliputi kegiatan pengumpulan informasi yang diperlukan, dan kegiatan analisis dan pencatatan informasi yang diperoleh. Langkah ketiga merupakan kegiatan penilaian terhadap informasi yang diperoleh dan yang telah diolah pada tahap kedua. Kegiatan pada langkah ketiga ini meliputi kegiatan pembuatan pertimbangan dan pengambilan keputusan, yang ditindaklanjuti dengan kegiatan pelaporan terhadap pihak-pihak terkait.

c. Kerangka Awal Pedoman Pengembangan Penilaian Berbasis Kelas
Pedoman pengembangan model sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia merupakan suatu kebutuhan bagi para guru. Mengingat selama ini, guru tampak kurang mempunyai pijakan yang jelas bagi kepentingan praktis yang secara khusus sesuai dengan kebutuhan penilaian mata pelajaran bahasa Indonesia. Untuk itu, kerangka awal pedoman pengembangan model sistem penilaian berbasis kelas dirancang sedemikian rupa, agar dapat memberikan arahan-arahan yang bersifat praktis dalam pengembangan model sistem penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Secara garis besar, pedoman ini meliputi empat bagian, yaitu bagian pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan, ruang lingkup, dan sasaran. Bagian dua berisi konsep dasar sistem penilaian berbasis kelas, yang meliputi pengertian, manfaat, prinsip, dan rambu-rambu. Bagian tiga, berisi teknik penilaian yang meliputi penentuan standar, indikator, teknik penilaian, dan cara penilaian. Bagian keempat, membahas tentang pelaporan hasil penilaian meliputi pengertian, bentuk pelaporan, dan teknik pelaporan.

2. Saran
Sebagaimana hasil penelitian, bahwa model sistem penilaian dan pedomannya baru merupakan kerangka awal yang baru diujicoba kelayakannya dalam lingkup yang sangat terbatas. Untuk melihat apakah kerangka awal model ini dilihat dari keterbacaan dan keunggulan model dapat memberikan kemudahan dan petunjuk praktis bagi para praktisi di lapangan, diperlukan uji coba lebih luas. Hasil uji coba lebih luas mungkin diperlukan adanya revisi dalam beberapa aspek sebelum diadakan uji validasi model. Dengan demikian, maka disarankan dilakukan penelitian lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
Azies, Furqonul & Alwasilah, A. Chaedar. (1996). Pengajaran Bahasa Komunikatif:
Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Brown, Sam ED dan Everett, Rebecca Samalone. (1990). Activities for Teaching
Using the Whole Language Approach. U.S.A.: Charles C Thomas Publisher.
De Carlo, Julia E. (1995). Perspective in Whole Language. Boston: Allyn and Bacon.
De Fine, Allan A. (1992). Portfolio Assessment: Getting Started. New York:
Scholastic Professional Books.
Depdikbud. (1990). Mengajar Bahasa Indonesia: Untuk Guru Sekolah Dasar.
Jakarta: Depdikbud.
Fillmore, Lily Wong dan Meyer, Lois M. (1992). “The Curriculum and Linguistic
Minorities”, dalam Handbook of Research on Curriculum. America:
American Eucational research Association.
Fisher, Carol J. & Terry, C. Ann. (1982). Children’s Language and the Language
Arts. New York: McGraw-Hill Book Company.
Furqon. (2001). Evaluasi Belajar di Sekolah. Mimbar Pendidikan No. 3 Tahun XX,
Bandung: UPI.
Goodman, Kenneth S. (1995). “Whole-Language Research: Foundations and
Development” Dalam Perspectives in Whole Language. Bostom: Allyn and
Bacon.
Hasan, S. Hamid. (1988). Evaluasi Kurikulum. Jakarta: Depdikbud, Dikti, Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan.
Hasan, S. Hamid & Zainul, Asmawi (1993). Evaluasi Hasil Belajar. Jakarta:
Depdikbud.
Hidayat S., Kosadi. (2002).Pembelajaran Bahasa komunitas Melalui Pembelajaran.
Elekronika. Bandung: Mimbar Pendidikan No. 1 tahun XXI.
Pusat Kurikulum (2007). Model Penilaian Kelas Kuriikulum Berbasis Kompetensi.
http://www.Puskur. Net.
Staley, Amy. (1991). Reading Aloud: Bringing Whole Language into the ESL
WritingClassroom.(Online): http://langue.hyper.chubu.ac.jp/jalt/pub/tlt/97/mar
Sumardi .(2002). Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Bahasa Indonesia. (Online).
Tersedia: http://@www.goodle/search. (28 Maret 2002).

Tentang wawan ahmad

Lahir di Tumih Kec.Wanaraya Batola sekarang tinggal di banjarbaru lagi belajar menambah ilmu
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s